Views: 218
Merah Putih di Pegunungan Moskona Timur: Doa, Tawa, dan Harapan di Ulang Tahun ke-80 RI
MOSKONA TIMUR – Kabut tipis menyelimuti pegunungan Moskona Timur, Teluk Bintuni, ketika dentuman tifa memecah sunyi fajar. Dari balik hutan hijau dan lembah yang tenang, warga kampung Mesna berbondong-bondong menuju lapangan sederhana. Di tanah jauh dari hiruk-pikuk kota inilah, semangat kemerdekaan Indonesia ke-80 dikibarkan dengan doa, tawa, dan harapan.
Moskona Timur merupakan salah satu distrik pegunungan di Kabupaten Teluk Bintuni. Meski berada jauh di pedalaman, kehangatan warganya menjadikan setiap perayaan kemerdekaan begitu berkesan. Suasana khas alam pegunungan—udara sejuk, pepohonan tinggi, dan bukit hijau—menjadi saksi kesetiaan rakyat di pelosok menjaga api merah putih tetap menyala.
Tepat pukul enam pagi, ibadah bersama membuka rangkaian acara. Jemaat larut dalam doa, memohon agar bangsa tetap diberkati, rakyat sejahtera, dan tanah Papua tetap damai. Seorang tokoh agama berpesan, “Kami hidup di tanah yang diberkati. Semoga Indonesia tetap bersatu dan adil bagi semua.”
Setelah ibadah, Kepala Distrik Moskona Timur membuka secara resmi perayaan HUT RI ke-80 dengan seruan lantang: “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju!” Slogan itu bergema di tengah lapangan, menyalakan semangat warga yang hadir.
Upacara bendera pun berlangsung khidmat. Bendera Merah Putih perlahan naik di tiang bambu sederhana, diiringi lagu kebangsaan yang dinyanyikan penuh penghayatan. Di wajah para pemuda tampak bangga, sementara beberapa orang tua tak kuasa menahan air mata. Di pelosok pegunungan Moskona, nilai kemerdekaan terasa begitu murni: sederhana, tulus, penuh makna.
Setelah suasana haru, tawa kembali mewarnai lapangan Mesna. Anak-anak bersorak mengikuti lomba gigit sendok bawa kelereng, berlari-lari kecil sambil menjaga keseimbangan. Warga lain ikut menyemarakkan lomba panahan tradisional, memadukan kearifan lokal dengan semangat kemerdekaan. Sorak-sorai menggema, membuat hari itu penuh warna.
Di sela-sela lomba, para orang tua duduk sambil bercerita tentang perjuangan para leluhur dan arti kemerdekaan. “Merah putih ini punya harga. Harus dijaga,” ucap seorang mama sambil menepuk pundak anaknya yang baru saja ikut lomba.
Hari itu, Mesna bukan lagi sekadar kampung kecil di pegunungan. Ia menjelma sebagai cermin Indonesia: bangsa besar yang hidup dari doa, perjuangan, dan kebersamaan.
Dan di penghujung acara, suara lantang kembali terdengar: “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju!”—bukan hanya slogan, melainkan janji warga Moskona Timur untuk terus menjaga persatuan Indonesia dari pelosok negeri.
(Laporan Tim Redaksi Kadate/Inspirasi Papua)













