Views: 5
Merah Putih Membelah Laut Doreri: Sat Polair dan Warga Manokwari Kibarkan Semangat Kemerdekaan
MANOKWARI – Jumat, 22 Agustus 2025, Laut Doreri, Minggu pagi (17/8/2025), berubah menjadi panggung merah putih yang memukau. Riak ombak yang tenang seakan memberi jalan ketika Sat Polair Polresta Manokwari bersama masyarakat membentangkan bendera raksasa berukuran 2 x 80 meter di atas perahu-perahu yang beriringan.
Rute pembentangan tidak biasa—dimulai dari pesisir Pulau Mansinam, melewati perairan Kwawi, Teluk Doreri, berputar menuju Teluk Sawaibu, hingga Pulau Lemon, lalu kembali lagi ke Pulau Mansinam. Pelayaran ini bukan sekadar perjalanan laut, tetapi sebuah simbol persatuan: bagaimana merah putih menyatukan laut, daratan, dan manusia yang hidup di dalamnya.
Simbol Kebersamaan
Masyarakat setempat, tokoh adat, aparat pemerintah, hingga anggota Polresta Manokwari turut hadir. Anggota DPRK Manokwari, Kepala Distrik Manokwari Utara, hingga Kepala Kampung Pulau Mansinam berdiri bersama warga, menyaksikan bendera itu mengembang gagah di atas perahu.
“Semangat kemerdekaan adalah warisan berharga dari para pendiri bangsa. Tugas kita bersama adalah menjaga keamanan, perdamaian, sekaligus memperkuat kebersamaan antara aparat dan masyarakat,” kata Kasat Polair Polresta Manokwari, IPTU Andi Sudirman, mewakili Kapolresta Manokwari Kombes Pol Ongky Isgunawan, S.IK.
Baginya, bendera yang terbentang bukan sekadar kain berwarna merah dan putih. Ia adalah lambang pengorbanan para pahlawan dan janji suci generasi penerus untuk menjaga Indonesia tetap utuh.
Menghidupkan Memori Pahlawan
Momen itu menjadi ruang refleksi bersama. Pulau Mansinam—yang dalam sejarah dikenal sebagai pintu masuk peradaban dan iman di Tanah Papua—kembali menjadi saksi lahirnya semangat baru. Laut yang sama, angin yang sama, kini menjadi medium untuk mengenang jasa para pejuang kemerdekaan.
Setiap helai kain merah putih yang berkibar di atas laut Doreri seperti berbisik: bahwa kemerdekaan tidak datang dengan mudah, melainkan hasil pengorbanan darah dan air mata.
Merah Putih di Hati Generasi
Di mata warga yang hadir, acara ini bukan sekadar seremonial. Anak-anak yang duduk di tepi pantai, remaja yang ikut membantu menarik bendera, hingga para orang tua yang menatap dengan mata berkaca-kaca—semuanya larut dalam suasana kebangsaan.
“Kalau kita lihat bendera besar ini dibentangkan di laut, hati terasa bergetar. Seperti diingatkan bahwa kita semua bagian dari Indonesia, bagian dari merah putih itu,” ucap seorang warga Pulau Lemon dengan nada haru.
Laut, Bendera, dan Harapan
Ketika bendera akhirnya kembali ke Pulau Mansinam, tepuk tangan pecah dari warga dan aparat yang hadir. Bukan karena prosesi itu selesai, tetapi karena harapan telah dititipkan: agar semangat kebersamaan yang terjalin hari ini terus tumbuh, melintasi generasi dan waktu.
Bendera di laut Doreri itu seolah berkata—meski ombak datang silih berganti, merah putih akan tetap berkibar, dan Indonesia akan selalu ada di hati setiap anak bangsa. (Laporan Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua)














