Mantan Karyawan Hendrison Itu Lebih Memilih Tinggal Dan Hidup Sederhana Di Bintuni Sebagai Petani

Nampak Nico Mandenas sebagai petani yang hidup sederhana nyaman dan damai ketika dirinya mencangkul tanah miliknya untuk ditanami. IP-IST
Bagikan berita ini

Visits: 15

BINTUNI, InspirasiPapua.id– Mantan karyawan PT Hendrison Iriana Nico Mandenas (57) salah seorang asli  Papua asal Serui datang merantau ke Bintuni mengadu nasib pada tahun 1985 dan bekerja sebagai karyawan HPH PT. Hendrison Iriana bagian survey.

Meskipun kelima anaknya sudah sukses dan hidup mandiri, tetapi Nico Mandenas saat ini tetap hidup sederhana sebagai petani dan tinggal sendiri di tanahnya seluas 50 meter x 100 meter yang didalamnya berdiri kokoh rumah kayu sederhana 6 meter x 6 meter di depan Pool Angkutan Masyarakat Bintuni (AMB) Bumi Saniari SP-3 distrik Manimeri.

Nico Mandenas dengan rendah hati menyilahkan wartawan melihat-lihat halaman dan rumah sederhana tempat tinggalnya di depan Pool AMD di Bumi Saniari SP-3. IP-IST

Awalnya Nico Mandenas meninggalkan Serui tanah kelahirannya pada tahun 1979 dan mengadu nasib di Nabire. Dan hidup di Nabire selama kurang lebih 6 tahun bersama istrinya Agustina Mentindom (56) serta anak pertamanya Yan Mandenas yang lahir di Nabire yang saat ini duduk sebagai anggota DPR RI Komisi I pada Pemilu Legislatif Tahun 2019 dari Provinsi Papua.

Dirinya meninggalkan Nabire pada tahun 1985 menuju Bintuni lewat Sorong. Alasan dirinya meninggalkan Nabire karena pada saat itu mencari uang Rp. 1.000 (seribu rupiah) di Nabire sangat sulit atau susah. Akhirnya dirinya memutuskan untuk mengadu nasib di Bintuni kala itu.

Tiba di Bintuni pada tahun 1985 bekerja sebagai karyawan HPH PT. Hendrison Iriana dibagian survey. Dan di Bintunilah kemudian lahir anak-anaknya yang lain atau adik-adik dari Yan Mandenas yang saat ini berprofesi sebagai anggota DPR RI Komisi I.

Nico Mandenas memiliki 5 orang anak yang pertama yaitu Yan Mandenas 39 tahun anggota DPR RI Komisi I dari Provinsi Papua. Anak kedua juga laki-laki yaitu Erik Mandenas bekerja sebagai pegawai Uncen Jayapura Provinsi Papua.

Selanjutnya anak ketiga bernama Korneles Mandenas ikut istrinya yang bekerja di Rumah Sakit Yapen Waropen Serui.

Lalu anak keempat seorang perempuan bernama Christina Mandenas bekerja di Kabupaten Kerom Provinsi Papua dan anak kelima juga perempuan bernama Silva Mandenas berprofesi sebagai dokter dan bekerja di RSUD Dok II Jayapura Provinsi Papua.

Anak-anaknya semua hidup mandiri dan sukses. Tatapi Nico Mandenas lebih memilih bertahan hidup di Bintuni dan tinggal sendiri tanpa mau ikut tinggal bersama anak-anaknya. Seperti istrinya saat ini ikut tinggal dengan anaknya Yan Mandenas di Jakarta.

Namun dirinya lebih senang  memilih hidup sendirian di Bintuni dengan alasan dirinya merasa lebih tentram, damai dan nyaman serta betah ketika tinggal di Bintuni sebab dia mememiliki kesibukan bekerja sebagai petani dengan menanam ubi kayu atau biasa disebut singkong dan buah nenas serta pisang, pinang, jeruk serta matoa dan bebagai tanaman buah lainnya..

Meski anaknya Yan Mandenas setiap bulan mengirimkan uang sebesar Rp. 2 juta. Tetapi bapak Nico tetap menjual hasil-hasil kebunnya itu dengan menitip di pondok-pondok pinang dan biasanya hasil kebunnya itu diborong dengan harga murah oleh pemilik pondok.

Namun dia pun rela menyerahkan hasil kebunnya itu kepada pembeli dengan ikhlas asalkan ada uang yang dia dapat untuk beli minyak tanah dan bensin.

Bapak yang memiliki prinsip hidup yaitu selalu mensyukuri apa yang diberikan Tuhan dan menikmati apa yang ada mengungkapkan bahwa anak-anaknya  bisa sukses dan mandiri seperti sekarang dalam kehidupan mereka masing-masing.

Dikarenakan ke 5 anaknya itu  semasa kecil melihat orang tua mereka hidup ke sana kemari dalam kesusahan sehingga mereka tidak mau hidup susah dan belajar disiplin dalam hidup dan setelah besar berusaha mandiri mencari uang sendiri untuk hidup lebih baik dari kehidupan orang tua mereka.

Nico Mandenas kemudian dengan bangga menceritakan keberhasilan anak pertamanya Yan Mandenas yang lahir di Nabire pada tahun 1982 kini usianya sudah 39 tahun.

“Anak laki-laki saya yang pertama Yan Mandenas pernah mengenyam pendidikan atau bersekolah di SD Inpres Bintuni dari kelas 1 sampai kelas 3 saat itu saya bersama istri dan anak-anak tinggal di Kompleks Polsek Bintuni saat ini.

Dan setelah kelas 3 Yan lalu pindah ke Serui dan menamatkan SD di sana. Kemudian Yan Mandenas kembali ke Bintuni dan melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Bintuni. Setelah tamat dari SMP Negeri Bintuni Yan kemudian melanjutkan sekolah tingkat atas di SMA Oikumene Manokwari dan tamat di SMA tersebut pada tahun 2000.

Semasa bersekolah di SMA Oikumene Yan pernah menjadi ketua OSIS dan sangat mandiri dalam menghidupi dirinya yaitu mencari uang sendiri sebagai kondektur taxi penumpang pernah dilakoni Yan,” terang Nico sang ayah.

Lanjut Nico Mandenas bahwa setelah Yan lulus dari SMA Oikumene Manokwari kemudian melanjutkan study yaitu kuliah di Universitas Cenderawasih Jayapura dan tembus di jurusan teknik namun dirinya kurang berminat pada jurusan tersebut.

“Kemudian anaknya itu pindah ke Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Uncen dan berhasil jadi sarjana politik pada tahun 2008.

Selanjutnya berbekal ilmunya itu Yan pada tahun 2008 langsung terjun kedunia politik bergabung dengan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) sebagai ketua partai dan berhasil lolos menjadi anggota DPR Papua pada tahun 2009 diusia yang saat itu masih sangat muda yaitu 27 tahun.

Dan menjabat anggota DPR Provinsi Papua selama 2 periode yaitu periode pertama 2009-2014 dan periode kedua 2014-2019.

Tidak puas duduk di DPR Provinsi Papua Yan Mandenas kemudian pindah partai yaitu ke Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada tahun 2019. Lalu maju ke DPR RI pada Pemilihan Legislatif Tahun 2020 dan lolos menjadi anggota DPR RI pada Komisi I dari daerah pemilihan Provinsi Papua,” ungkap sang ayah Nico Mandenas dengan rasa bangga menuturkan keberhasilan anak pertamanya Yan Mandenas sebagai anggota DPR RI Komisi I,” papar Nico Mandenas.

Nico Mandenas juga menceriterakan bagaimana pengalamannya ketika ikut tinggal dengan anaknya Yan Mandenas selama 2 bulan di Jakarta dirinya sempat sakit 1 minggu karena dirinya hanya tinggal-tinggal saja dan tidak beraktifitas seperti di Bintuni bisa cangkul tanah dan tanam ubi dan nenas.

Akhirnya dirinya memutuskan kembali ke Bintuni karena rindu dengan rumahnya, lahannya serta tanaman-tanamannya serta jemaat-jemaatnya di Gereja GKI Syaloom Bumi Saniari SP-3.

Selain itu dirinya juga pernah pulang ke kampung halamannya di pulau Yapen Serui tetapi di sana juga dirinya tidak betah.

“Mungkin karena saya ini sudah menyatuh dengan alam Sisar Matiti “Kali Kabur” menyebabkan kemana pun saya pergi tidak bisa melupakan tanah dimana saya mencari penghidupan yaitu Bintuni,” ungkapnya.

Selain berkebun Nico Mandenas adalah penganut agama Kristen yang taat dan juga memiliki aktifitas keagamaan yaitu sebagai Ketua Kaum Bapak Jemaat Gereja GKI Syaloom SP-3 Distrik Manimeri.

Diusianya yang sudah 57 tahun menikmati hidupnya dengan tenang dan damai serta tentram di rumahnya di Bumi Saniari SP-3 distrik Manimeri Kabupaten Teluk Bintuni. (01-IP)

About Post Author

banner x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *