PDPI Papua Gelar Webinar Paru Sehat di World Lung Day

Balai Latihan Tenaga Kesehatan Provinsi Papua bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Papua menggelar webinar dalam rangka memperingati Hari Paru Sedunia (World Lung Day) 2025 dengan tema “Breaking Barriers: Championing Early Detection and Equal Care”, pada 19 Oktober 2025 secara daring melalui Zoom. (ist/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 81

 PDPI Papua Gelar Webinar Peringati HUT ke-52 dan World Lung Day 2025: Angkat Tema “Paru Sehat, Hidup Sehat”

 

BINTUNI — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-52 Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) sekaligus World Lung Day tahun 2025, PDPI Cabang Papua menggelar webinar bertema “Healthy Lungs, Healthy Life” atau “Paru Sehat, Hidup Sehat”, Minggu (19/10/2025) pukul 12.00–14.00 WIT.

Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari kalangan medis. Tercatat sekitar 300 peserta mengikuti webinar, terdiri dari dokter umum dan dokter spesialis dari berbagai daerah di Papua.

“Antusiasme peserta luar biasa. Ini menunjukkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan paru di masyarakat dan kalangan medis,” ujar dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, MMRS, FAPSR, FISR, Ketua PDPI Cabang Papua, Senin (20/10/2025).

Tiga Topik Utama: Asma, PPOK, dan Kanker Paru

Webinar tersebut membahas tiga topik utama, yakni:

1. Penanganan Asma Eksaserbasi Akut (Serangan Asma) — dibawakan oleh dr. Albertina Hermina Sesa, Sp.P (Serui).

2. Penanganan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Eksaserbasi — oleh          dr. Theophilus Obed Lay, Sp.P (Jayapura).

3. Skrining dan Deteksi Dini Kanker Paru — dipaparkan oleh dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, MMRS, FAPSR, FISR (Teluk Bintuni) bersama dr. Susi Subay, Sp.P (Manokwari).

Sebagai moderator, dr. Albertina menjelaskan bahwa asma merupakan peradangan kronis pada saluran napas yang ditandai dengan gejala seperti mengi, sesak napas, dada terasa berat, dan batuk yang dapat muncul akibat faktor pemicu seperti infeksi virus, debu, asap rokok, tungau, atau kelelahan.

“Penanganan pasien asma eksaserbasi bisa dilakukan di Puskesmas maupun IGD rumah sakit sesuai panduan PDPI,” jelas dr. Albertina.

Sementara itu, dr. Theophilus menyoroti Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) yang kini masuk dalam 10 besar penyebab kematian di Indonesia dan diperkirakan jumlahnya akan terus meningkat hingga tahun 2030.

“PPOK eksaserbasi ditandai dengan sesak napas yang semakin berat, batuk berdahak, dan perubahan warna dahak menjadi lebih kental,” paparnya.

Deteksi Dini Kanker Paru Jadi Fokus Utama

Dalam sesi terakhir, dr. Wiendo Syahputra Yahya memaparkan bahwa kanker paru kini menjadi jenis kanker yang paling sering ditemukan pada laki-laki di Indonesia, dan sebagian besar pasien baru terdiagnosis saat penyakit sudah memasuki stadium lanjut.

“Tahun 2023, PDPI dan IASTO telah merekomendasikan formulir skrining dan deteksi dini kanker paru bagi masyarakat usia 45–71 tahun, terutama yang memiliki riwayat merokok, terpapar asap rokok, atau memiliki riwayat kanker dalam keluarga,” jelas dr. Wiendo.

Ia menegaskan pentingnya upaya pencegahan dan deteksi dini agar angka kematian akibat kanker paru dapat ditekan sejak dini melalui edukasi masyarakat dan skrining berkala.

Dengan semangat memperingati World Lung Day 2025, PDPI Papua berharap kegiatan ilmiah seperti ini dapat menjadi sarana berbagi ilmu sekaligus meningkatkan kesadaran publik bahwa paru sehat adalah kunci kehidupan yang sehat dan produktif.(MA/Inspirasi Papua)

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *